Senin, 19 April 2010

Keributan, Kenapa?

Keributan sering kali jadi ujung dari sebuah masalah yang melibatkan lebih dari satu pihak. Yang belum lama terjadi adalah "Tragedi Tanjung Priuk", ya... bahkan harus ada pertumpahan darah yang menimbulkan korban jiwa. Kerugian yang ditumbulkan juga pastinya sangat banyak baik materi maupun non-materi. Drama yang luar biasa, setelah keributan itu terjadi baru ada dialog bersama. Cukup sampai sini aku bicara tentang tragedi ini.

Keributan ini juga sering dialami hampir semua individu, kehidupan sosial yang komplek menghadapkan permasalahan yang komplek pula, baik dengan keluarga, saudara, pacar, atau bahkan teman dan orang lain. Jika pengendalian diri yang kurang, keributanlah yang terjadi dan pastinya akan ada kerugian yang ditimbulkan. Aku teringat demo-demo yang berujung dengan kerusuhan, pengrusakan fasilitas umum. Coba pikir berapa uang yang digunakan untuk memperbaiki fasilitas itu, misalnya demo itu mengusung topik biaya pendidikan yang mahal. Ya... demo membuang uang yang seharusnya bisa digunakan untuk hal yang lebih dari sekedar memperbaiki fasilitas yang dirusak pendemo.

Aku berpikir, keributan sepertinya tidak perlu terjadi, dalam masalah apapun baik yang kecil sampai yang besar, baik urusan antar individu sampai antar kelompok. Dialog, duduk bersama, bicara dengan kepala dingin sepertinya lebih enak. Aku teringat dengan beberapa motto iklan yang ada kaitanya dengan hal ini. "Mari ngeteh, mari bicara" dan " Always listening, alwasy understanding".
Numpang baca: mohon maaf apabila tulisan ini menyinggung perasaan Anda, jika tulisan ini tidak berkenan di hati Anda, mohon lupakan saja, anggap Anda tidak membaca tulisan ini. Ini hanya celotehan anak kecil, harap maklum. Terima kasih.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar